Islami , Iman , Ikhsan, Haji, Umroh, Doa, Shalat, Puasa, Zakat,
Rabu, 31 Maret 2021
Kisah Nabi Ibrahim a.s Tidak Terbakar Api
Cerita Nyata Islami
Kisah Nabi Ibrahim a.s Tidak Terbakar Api
Nabi Ibrahim mampu menundukkan mereka dengan argumentasi dan logik berfikir yang sehat. Tetapi mereka membalasnya dengan menetapkan akan menggantungnya di dalam api. Sungguh ini sangat mengherankan. Suatu mahkamah yang mengerikan digelar di mana si tertuduh akan dihukum dengan pembakaran.
Demikianlah masalah pergulatan antara pemikiran, atau antara nilai-nilai, atau antara prinsip-prinsip selalu terjadi dan selalu membara di tengah-tengah masyarakat. Nabi Ibrahim sudah berusaha untuk menggugah hati dan fikiran Ketika beliau mengisyaratkan kepada tuhan yang paling besar dan menuduhnya bahwa ialah yang menghancurkan tuhan-tuhan yang lain. Nabi Ibrahim meminta kepada mereka untuk bertanya kepada para tuhan itu, tentang siapa yang membuatnya hancur. Tetapi para tuhan itu tidak mampu berbicara lalu mengapa manusia menyembah sesuatu yang tidak mampu berbicara dan tidak mengerti apa-apa.
Ketika Nabi Ibrahim berhasil merobohkan argumentasi mereka, maka orang-orang yang sombong bangkit untuk menenangkan suasana. Para penentang itu tidak mahu manusia akan menyembah selain berhala. Mereka pun mengatakan akan menggantung dan akan membakar Ibrahim hidup-hidup. Nabi Ibrahim pun ditangkap lalu disiapkanlah tempat pembakaran. Para penentang itu berkata kepada pengikutnya: “Bakarlah Ibrahim, dan tolonglah tuhan kalian jika kalian benar-benar menyembahnya.” Mereka pun terpengaruh dengan ucapan tersebut. Mereka pun menyiapkan alat-alat untuk membakar Nabi Ibrahim.
Tersebarlah berita itu di kerajaan dan di seluruh negeri. Manusia-manusia berdatangan dari berbagai pelosok, dari gunung-gunung, dari berbagai desa, dan dari berbagai kota untuk menyaksikan balasan yang diterima bagi orang yang berani menentang tuhan, bahkan menghancurkannya
Semua penduduk Babylon telah dikerahkan mencari kayu api untuk dijadikan api unggun. Api unggun yang besar itu dibuat untuk membakar nabi Ibrahim sebagai hukuman atas kesalahan yang telah dilakukan olehnyASemua kayu yang ada telah diambil dan dikumpulkan di satu kawasan lapang. Kayu-kayu yang dikumpulkan amatlah banyak sehingga melampaui ketinggian bangunan yang ada di kawasan itu. Ketinggiannya tidak mampu dijangkau oleh tangan manusia lagi dan memenuhi kawasan yang begitu luas sekali. Kayu-kayu yang dikumpulkan amatlah banyak kerana semua orang ikut mengumpulkan, anak kecil, orang besar, tua dan muda semuanya berpartisipasi mengumpulkan kayu api tersebut.
Apabila kayu api telah banyak, mereka pun mulailah menghidupkan api untuk membakar Nabi Ibrahim. Api terbakar dengan begitu cepat kerana kayu-kayu yang dikumpulkan itu kering dan berada di kawasan padang pasir yang panas. Hawa panas amat terasa sehingga tidak tertahan oleh kulit manusia. Namun begitu, mereka semua tidak berganjak sedikitpun dari kawasan api unggun tersebut. kerana ingin melihat sendiri hukuman itu dijalankan.
Sebelum nabi Ibrahim dilemparkan kedalam api tersebut, kedua tangan dan kakinya telah diikat dengan rantai supaya tidak dapat lari daripada hukuman itu. Bukan saja tangan dan kakinya diikat, malah seluruh badannya juga telah dililit dengan rantai. Ketika orang ramai sangat cemas menantikan upacara tersebut dijalankan, Nabi Ibrahim kelihatan tenang saja. Mukanya tidak menunjukkan rasa takut untuk menempuh cobaan dan ujian tersebut. Lagipun nabi Ibrahim amat yakin dengan janji dan pertolongan yang dijanjikan oleh Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Mereka menggali lubang besar yang dipenuhi kayu-kayu, batu-batu, dan pohon-pohon lalu mereka menyalakan api di dalamnya. Kemudian mereka mendatangkan manjaniq, yaitu suatu alat yang dapat digunakan untuk melempar Nabi Ibrahim ke dalam api sehingga ia jatuh ke dalam lubang api. Mereka meletakkan Nabi Ibrahim setelah mereka mengikat kedua tangannya dan kakinya pada manjaniq itu. Api pun mulai menyala dan asapnya mulai membumbung ke langit. Manusia yang melihat peristiwa itu berdiri agak jauh dari galian api itu kerana saking panasnya. Lalu, seorang tokoh dukun memerintahkan agar Ibrahim dilepaskan ke dalam api. Tiba-tiba malaikat Jibril berdiri di hadapan Nabi Ibrahim dan bertanya kepadanya: “Wahai Ibrahim, tidakkah engkau memiliki keperluan?” Nabi Ibrahim menjawab: “Aku tidak memerlukan sesuatu darimu.”
Nabi Ibrahim telah diletakkan di atas pelontar batu sebelum dicampakkan ke tengah-tengah api unggun yang sedang menyala itu. Api membakar kayu dengan cepat sekali dan membakar seluruh kayu api yang ada. Nabi Ibrahim pun dilepaskan lalu dimasukkan ke dalam kubangan api.
Ketika kaumnya hendak melemparkannya ke dalam api, Nabi Ibrahim hanya berserah diri kepada Allah dan berkata: “Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” Nabi Ibrahim pun dilepaskan lalu dimasukkan ke dalam kubangan api. Nabi Ibrahim terjatuh dalam api. Api pun mulai mengelilinginya. Allah SWT juga telah berfirman kepada api dalam firman-Nya:
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (QS. Al Anbiyaa, 21:68-71).
Amat mudah bagi Allah SWT apabila berkehendak, api yang bersifat panas akan menjadi dingin apabila Allah SWT berkehendak, seperti yang terjadi pada diri nabi Ibrahim, As. Nabi Ibrahim dijatuhkan hukuman oleh hakim supaya dibakar hidup-hidup kerana memusnahkan patung-patung sembahan mereka.
Api pun tunduk kepada perintah Allah SWT sehingga ia menjadi dingin dan membawa keselamatan bagi Nabi Ibrahim. Api hanya membakar tali-tali yang mengikat Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim dengan tenang berada di tengah-tengah api seakan-akan beliau duduk di tengah-tengah taman. Beliau memuji Allah SWT, Tuhannya dan mengagungkan-Nya. Yang ada di dalam hatinya hanya cinta kepada sang Kekasih, yaitu Allah SWT.
Hati Nabi Ibrahim tidak dipenuhi rasa takut atau menyesal atau berkeluh kesah. Yang ada dalam hati beliau hanya cinta semata. Api pun menjadi damai dan menjadi dingin. Sesungguhnya orang-orang yang cinta kepada Allah SWT tidak akan merasakan ketakutan. Para pembesar dan para dukun mengamat-amati dari jauh betapa panasnya api itu. Bahkan api terus menyala dalam tempo yang lama, sehingga orang-orang kafir mengira bahwa api itu tidak pernah padam. Ketika Nabi Ibrahim berada di tengah-tengah api unggun itu, semua rantai dan tali yang mengikat kedua-dua tangan dan kakinya hangus terbakar. Namun mukjizat dan keistimewaan yang dianugerahkan oleh Allah kepadanya menyebabkan seluruh badan dan pakaiannya sedikitpun tidak terusik oleh api.
Setelah beberapa hari, api pun padam dan Nabi Ibrahim keluar dari api unggun yang kayunya itu telah hangus menjadi abu. Ketika api itu padam, mereka dibuat terkejut ketika melihat Nabi Ibrahim keluar dari kubangan api dalam keadaan selamat. Semua kaumnya merasa amat heran dan takjub sekali. Mereka tidak menyangka Nabi Ibrahim masih hidup sedangkan api yang membakarnya amat besar. Wajah mereka menjadi hitam kerana terpengaruh asap api sementara wajah Nabi Ibrahim berseri-seri dan tampak diliputi dengan cahaya dan kebesaran. Bahkan pakaian yang dipakai Nabi Ibrahim pun tidak terbakar, dan beliau tidak tersentuh sedikit pun oleh api. Nabi Ibrahim pun keluar dari api itu bagaikan beliau keluar dari taman.
Lalu orang-orang kafir pun berteriak keheranan. Mereka mula merasakan usaha mereka selama ini sia-sia saja. Malah ada juga di kalangan mereka yang mengakui tentang kebenaran ajaran yang di bawa oleh Nabi Ibrahim. Walau bagaimanapun mereka tidak berani mengakuinya kerana bimbang dengan hukuman yang akan dikenakan oleh pemerintah. Mereka pun mendapatkan kekalahan dan kerugian. Allah SWT berfirman:
Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.”(QS. Al-Anbiya, 21: 70)
Al-Quran tidak menceritakan kepada kita tentang usia Nabi Ibrahim saat menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Al-Quran juga tidak menceritakan berapa usia beliau saat memikul tanggung jawab da’wah dan menyeru di jalan Allah SWT. Melalui pelacakan nas-nas dapat diketahui bahwa Nabi Ibrahim saat itu masih muda belia, ketika melakukan peristiwa besar itu. Bukti hal itu adalah, ketika para kaumnya mendengar penghancuran berhala, mereka berkata:
“Mereka berkata: “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.”(QS. al-Anbiya’: 60)
Injil Barnabas menceritakan bahwa Nabi Ibrahim menghancurkan patung-patung sebelum Allah SWT mewajibkannya berda’wah. Injil Barnabas mengatakan pada pasal ke 29 bahwa Nabi Ibrahim mendengar suatu suara yang memanggil-manggilnya. Nabi Ibrahim bertanya: “Siapa yang memanggilku?” Ketika itu Nabi Ibrahim mendengar suara yang berkata: “Aku adalah malaikat Jibril. Nabi Ibrahim menjadi takut, tetapi malaikat itu segera menenangkannya sambil berkata: “Jangan takut, hai Ibrahim kerana engkau adalah kekasih Allah SWT, dan ketika engkau menghancurkan tuhan-tuhan sembahan manusia, Allah SWT memilihmu sebagai pemimpin para malaikat dan para nabi.” Kemudian – masih kata Injil Barnabas: “Nabi Ibrahim bertanya apa yang harus dilakukan untuk menyembah tuhan para malaikat dan para nabi?” Jibril menjawab: “bahwa hendaklah beliau pergi ke sumber ini dan mandi, agar dapat mendaki gunung sehingga Allah SWT berbicara dengannya.”
Kemudian Nabi Ibrahim mendaki gunung, lalu Allah SWT menyerunya. Nabi Ibrahim menjawab: “Siapa yang memanggilku?” Allah SWT berkata: “Aku adalah Tuhanmu, hai Ibrahim.” Nabi Ibrahim gementar ketakutan dan sujud di atas bumi dan beliau berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana hamba-Mu mendengar seruan-Mu sementara ia adalah tanah dan abu.” Di sanalah Allah SWT memerintahkannya agar beliau bangkit kerana Allah SWT telah memilihnya sebagai hamba-Nya dan Dia telah memberkatinya dan orang-orang yang mengikutinya.
Riwayat tersebut menentukan waktu pemilihan Nabi Ibrahim dan waktu pengangkatannya sewaktu beliau menghancurkan berhala dan penyembahan manusia. Demikianlah yang diceritakan oleh Al-Quran al- Karim dalam firman-Nya:
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al- Baqarah: 131)